Comments system

[blogger][disqus][facebook]

"Akhirnya aku tau, kenapa kau betah sendirian selama ini", a ku mengernyit. "Kau pandai menyemangati diri sendiri"...

"Akhirnya aku tau, kenapa kau betah sendirian selama ini", aku mengernyit.

"Kau pandai menyemangati diri sendiri", ucapnya sambil memandangku penuh penghargaan.

Aku tersenyum miris. Perempuan satu ini selalu saja. Itu kata-kata yang keluar dari mulutnya sesaat setelah tiba di kamar kostku. Ia memperhatikan semua sisi. Membaca setiap tulisan yang sengaja kutempel ditembok. Rupanya tentang kesendirian itu lagi yang ia pikirkan. Aku menghela napas panjang.

Melempar sembarang tas dan jilbab ke atas kasur, "jadi kesini mau makan rujak apa bicarain kesendirian lagi?"

Dela duduk didepanku. Mencomot satu tusuk gigi untuk digunakan makan rujak buah miliknya. Tas dan jilbab miliknya juga ia lempar sembarang diatas kasur.

"Aku nggak ngerti ya kenapa kamu betah banget sendirian", kata dela sambil mata dan tangannya sibuk menusuk potongan bengkoang.

"Katanya tadi udah ngerti"

Dela mengedikkan bahu, masih sibuk dengan potongan bengkoang yang tak kunjung bisa ia tusuk.
"Aku gak bener-bener sendiri tahu! Aku juga punya temen semasa sekolah dulu, cuma ya sekarang males aja nyari-nyari temen lagi"

"Tetep aja kan? Eh, kamu manusia, kan? Normal, kan?", Katanya setelah berhasil menusuk potongan bengkoang yang sudah ia incar sedari tadi.

"Bukan. Alien!"

"Alien punya pasangan"

"Sok tahu! Memangnya kau siapa, presidennya alien?"

"Tentu saja alien punya pasangan. Memangnya kau pikir alien tak butuh berkembang biak?"

"Lantas apa hubungannya denganku sekarang?"

"Kau harus punya pasangan. H A R U S", katanya sambil mengeja abjad.

Dua jam kemudian Dela pulang, setelah lelah nyemil sambil menceramahiku tentang kesendirian lagi dan lagi. Sebelum pulang, dia berdiri di ambang pintu berpamitan sambil berkata, "tapi aku setuju dengan tulisan ditengah yang paling besar itu tentang 'Hidup tak hanya sekedar Hidup, Nikah, Mati"
Aku tersenyum. Kembali masuk kamar setelah tubuh dela hilang dikelokan jalan. Bagiku hal itu sama seperti uang. Semua orang butuh uang, tapi hidup tak pernah melulu soal uang. Semua orang butuh pasangan,--atau paling tidak butuh disayangi. Aku pun. Tapi hidup tak pernah melulu soal jodoh dan pasangan, meski tak ada satupun orang yang memilih benar-benar sendirian.

Seseorang membuka pintu kamarku dengan paksa, "Din, aku putus lagi", rengeknya sambil menangis sesegukkan.

"Hah? Bukannya baru seminggu jadian?"




Surabaya, 6 Juli 2019